www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah, 17 Januari 2026-Banjir yang melanda wilayah Kabupaten Pati selama beberapa hari terakhir membuat akses transportasi terganggu.
Beberapa ruas jalan penting, mulai dari jalan penghubung antarkecamatan hingga jalan alternatif penghubung antarkabupaten tergenang air.
Misalnya, akibat banjir di Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, Pati, polisi terpaksa menutup sementara jalur alternatif Pati-Kudus, Sabtu (17/1/2026).
Hal itu dikonfirmasi oleh Kapolsek Sukolilo, AKP Sahlan.
“(Jalan ditutup) dari Pertigaan Pasar Cengkalsewu menuju Dukuh Poncomulyo (Desa Kasiyan), tepatnya di depan masjid. Kira-kira jalan sepanjang 3-4 kilometer kebanjiran,” kata dia pada TribunJateng.com, Sabtu (17/1/2026).
AKP Sahlan mengimbau pengguna jalan agar untuk sementara waktu menghindari jalan tersebut. Sebab, ketinggian air pada titik-titik tertentu bisa mencapai antara 70 hingga 90 sentimeter.
Selain karena kondisi jalan yang banjir membahayakan pengendara, jalan juga ditutup atas usulan dari warga setempat.
“Jadi penutupan ini juga mengurangi keresahan warga. Karena ketika jalan dilalui kendaraan, terutama roda empat, gelombang air bisa mengenai rumah warga,” ucap Sahlan.
Dia memastikan bahwa kendaraan roda dua sudah dipastikan tidak bisa melintasi jalan tersebut karena air sudah melebihi tinggi mesin kendaraan.
Untuk diketahui, banjir menggenang di ruas jalan tersebut sejak Rabu (14/1/2026).
Banjir yang kondisinya cukup parah terjadi di Dukuh Penggingwangi, Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo.
Banjir di jalan mencapai ketinggian 70 sentimeter.
Adapun di permukiman dan lahan pertanian, ketinggian air bisa mencapai 1,5 meter.
Kepala Dusun Penggingwangi, Desa Kasiyan, Budi Sutrisno, mengatakan bahwa banjir kali ini menggenangu 90 rumah penduduk setempat.
Adapun jumlah keluarga yang terdampak mencapai 116, dengan jumlah 333 jiwa.
“Warga yang terdampak banjir ini ada yang mengungsi sekaligus mengamankan aset berharga mereka ke tempat yang lebih aman. Namun, ada juga warga yang masih bertahan di rumah masing-masing,” tutur dia.
Titik pengungsian korban banjir berada di posko dekat Masjid Dukuh Penggingwangi.
Warga pun cukup kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih. Sementara ini, warga memanfaatkan air dari depot isi ulang air minum terdekat yang pasokannya masih aman.
Mustakim, warga Desa Kasiyan, mengatakan bahwa seluruh ruangan di rumahnya sudah kebanjiran. Akibatnya, beberapa perabotannya rusak akibat lapuk.
“Di dalam rumah ketinggian air sampai sepinggang. Barang-barang yang masih bisa diselamatkan saya amankan ke tempat agak tinggi,” tutur dia.
Dia juga menceritakan, sebelum jalan ditutup, kondisi banjir di rumahnya diperparah oleh kendaraan besar yang nekat menerjang banjir.
Truk-truk yang melintasi depan rumahnya, apalagi tanpa mengurangi kecepatan, menyebabkan gelombang air masuk ke dalam rumahnya.
Penutupan jalan juga terjadi di wilayah Dukuh Jatisobo, Desa Gempolsari, Kecamatan Gabus.
Muka Jalan penghubung menuju wilayah Kecamatan Winong dipasangi peringatan agar pengendara tidak melintas lantaran banjir cukup tinggi.
“Kedalaman air di jalan alternatif Gabus-Winong mencapai 60 sentimeter. Sehingga kendaraan untuk sementara dilarang masuk, karena kalau kendaraan melintas, gelombang air bisa masuk ke rumah warga. Selain itu kalau nekat tetap melintas, kendaraan bisa mogok,” ucap Diyok, relawan yang berjaga mengatur lalulintas di lokasi.
