www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah, 30 Maret 2026-Penggunaan sound horeg dalam tradisi sedekah bumi di Kabupaten Pati tetap diperbolehkan.
Namun, pemerintah daerah menegaskan adanya aturan ketat yang harus dipatuhi agar kegiatan tetap aman, tertib, dan tidak merusak lingkungan.
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menyampaikan bahwa sound horeg masih bisa digunakan dalam rangkaian sedekah bumi yang biasanya digelar masyarakat desa pada bulan Apit atau setelah Syawal.
Tradisi sedekah bumi sendiri merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat yang kerap diramaikan dengan berbagai kegiatan, termasuk karnaval dan hiburan rakyat.
Meski diperbolehkan, pemerintah menetapkan batasan teknis dalam penggunaan sound horeg untuk mencegah dampak negatif.
“Kalau sedekah bumi, sound horeg kemarin sudah ada aturannya, tidak boleh lebih dari 16 subwoofer.
Itu tolong dipatuhi,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, pembatasan tersebut bertujuan menjaga ketertiban sekaligus memastikan esensi tradisi tidak terganggu oleh hal-hal yang berpotensi merusak suasana.
“Makna sedekah bumi ini kan baik, sebagai wujud syukur masyarakat.
Jadi jangan sampai mengganggu lingkungan dan mengurangi marwah tradisi itu sendiri,” tambahnya.
Sebelumnya, penggunaan sound horeg sempat menjadi sorotan publik setelah insiden yang viral di media sosial.
Dalam sebuah karnaval di Kecamatan Dukuhseti pada tahun lalu, seorang peserta dilaporkan terjatuh dari atas truk hingga sempat bergelantungan di kabel listrik.
Beruntung, korban selamat tanpa luka serius.
Belajar dari kejadian tersebut, pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar lebih mengutamakan keselamatan selama perayaan berlangsung.
Selain itu, penggunaan sound horeg juga tidak boleh menimbulkan kerusakan fasilitas maupun gangguan keamanan di lingkungan sekitar.
“Boleh digunakan, tapi jangan sampai terjadi kaca pecah, kerusakan, atau bahkan tawuran. Itu yang harus dihindari,” tegasnya.
Dengan adanya aturan ini, diharapkan pelaksanaan sedekah bumi di Kabupaten Pati dapat berlangsung meriah tanpa mengesampingkan faktor keselamatan serta tetap menjaga nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
