Misteri Hilangnya Kardan di Perbukitan Pekuncen Banyumas, Kawasan Lereng Dianggap Mistis

www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah, 16 Januari 2026-Lereng panjang Desa Karangkemiri, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas belum mampu menyibak dimana keberadaan Kardan (78).

Di hamparan perbukitan yang membujur dari selatan ke utara, tim SAR gabungan bersama warga telah menyisir kebun, hutan, hingga tebing curam.

Namun hingga Jumat (16/1/2026), tanda keberadaan warga lanjut usia yang hidup sebatang kara itu belum juga ditemukan.

Kepala Desa Karangkemiri, Subur Topo, menggambarkan medan pencarian yang tak sederhana.

Wilayah desanya dikelilingi perbukitan, dengan setiap gerumbul permukiman berada di kawasan lereng.

Rumah Pak Kardan berada di lereng desa yang luas jarak dari bagian atas hingga bawah sekitar satu kilometer.

Apabila ditarik ke arah utara, lereng tersebut membentang hingga wilayah Patuguran, melewati tiga desa Karangkemiri, Kranggan, dan Patuguran.

Secara demografis, Desa Karangkemiri terbagi antara wilayah atas dan bawah, masing-masing sekitar seribu kepala keluarga.

Di wilayah atas terdapat sekitar 40 RT, sementara di wilayah bawah sekitar 20 RT, dengan rata-rata setiap RT dihuni sedikitnya 35 kepala keluarga.

“Penyisiran sudah dilakukan hingga lereng barat dan area itu dinyatakan clear, tetapi belum ada hasil,” kata Subur.

Ia menambahkan, kawasan di bawah lereng tempat Pak Kardan tinggal dikenal berat secara alamnya dan oleh sebagian warga dianggap mistis.

Di sana terdapat curug, mata air, sudung celeng, serta jalur-jalur alam kering yang jarang terawat membuat pencarian kian menantang.

Pak Kardan sendiri dikenal warga sebagai sosok sederhana dan tertutup.

Ia berasal dari Desa Semedo desa yang bersebelahan namun secara administrasi tercatat sebagai warga Karangkemiri.

Ia tidak memiliki istri dan anak, sebagian saudaranya tinggal di Semedo dengan kondisi ekonomi terbatas.

Sehari-hari, Pak Kardan mencari kayu bakar.

Kebutuhan makan sering dibantu tetangga, sementara pemerintah desa memfasilitasi administrasi kependudukan, termasuk KTP.

“Kondisinya memiliki keterbatasan. Pendengarannya berkurang, penglihatannya tidak terlalu baik, dan kemampuan bersosialisasinya sangat terbatas,” ujar Subur kepada Tribunbanyumas.com.

Kardan tinggal di gubuk sederhana; warga sempat berinisiatif membangunkan rumah sederhana agar lebih layak.

Listrik pun dialirkan dari rumah tetangga terdekat.

Secara rasional, Subur meragukan informasi yang menyebut Pak Kardan pergi jauh.

Rekaman CCTV menunjukkan pada Jumat sekitar pukul 05.00 WIB ia sempat mengarah ke selatan, namun malam harinya kembali berada di sekitar rumah.

Pada Sabtu siang, ia juga masih terlihat di kebun.

“Selama ini beliau selalu pulang, tidak pernah bermalam di warung atau toko.

Sulit meyakini beliau sengaja pergi,” katanya.

Kepastian Pak Kardan tidak pulang baru diketahui Sabtu sore setelah ia pergi ke kebun.

Sementara itu, upaya pencarian resmi terus diperluas.

BASARNAS bersama tim SAR gabungan membagi operasi menjadi tiga Search and Rescue Unit (SRU).

SRU-1 menyisir radius 3 kilometer, SRU-2 radius 3,5 kilometer, dan SRU-3 melakukan pencarian menggunakan UAV thermal (drone) untuk menjangkau titik-titik sulit seperti tebing.

Penyisiran dilakukan dua kali guna memastikan area benar-benar bersih.

Komandan Tim Rescue, Amin Riyanto, menyampaikan hingga hari keenam pencarian di hutan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, hasil masih nihil.

“Kendala di lapangan adalah vegetasi yang rapat, tebing curam, dan hujan yang kerap turun menjelang sore sehingga jarak pandang terbatas,” ujarnya.

Kronologi mencatat, pada Sabtu (10/1/2026) sekitar pukul 07.00 WIB, Kardan pergi mencari kayu bakar ke hutan Desa Karangkemiri.

Keesokan harinya, Minggu (11/1/2026) pukul 10.00 WIB, saksi sempat melihatnya di area hutan desa.

Setelah 24 jam tak kembali, pemerintah desa dan warga melakukan pencarian awal, lalu melaporkan ke Kantor SAR Cilacap melalui Unit Siaga SAR Banyumas.

Di luar operasi SAR, solidaritas warga tak surut.

Warga Karangkemiri mayoritas petani dan penderes terlibat aktif hingga tengah malam.

Doa bersama digelar, gotong royong terus dilakukan, bahkan pencarian malam hari ditempuh dengan senter menyusuri jalur-jalur kebun dan hutan.

“Tim SAR akan melanjutkan pencarian hingga hari terakhir di kawasan kebun lereng atas wilayah Kranggan,” ujar Subur.