www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah, 9 Desember 2025-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas resmi menandatangani nota kesepahaman (MOU) kerja sama pengolahan Refuse Derived Fuel (RDF) dengan PT Sinar Tambang Artha Lestari (Semen Bima).
Penandatanganan berlangsung di Ruang Joko Kaiman, Pendopo Si Panji Purwokerto, Selasa (9/12/2025).
Kerja sama ini digadang menjadi langkah penting percepatan penanganan sampah di Banyumas sekaligus mendukung penggunaan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan di industri semen.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, mengatakan Semen Bima memiliki kebutuhan RDF yang cukup besar, yakni hingga 300 ton per hari apabila operasional sudah berjalan optimal.
“Kalau sudah optimal, Semen Bima membutuhkan kisaran 300 ton per hari.
Tapi saya bilang, utamakan Banyumas dulu.
Jadi memang daerah lain ada yang meminta juga,” ujar Sadewo
Ia menegaskan bahwa dari potensi RDF Banyumas, minimal 70 ton per hari harus habis diserap Semen Bima sesuai kesepakatan kerja sama yang berlaku selama lima tahun.
“Harapannya ini jadi win-win solution.
Semen Bima untung, pengelolaan sampah kita juga lebih ramah lingkungan,” tambahnya.
Sadewo menjelaskan, saat ini sekitar 77 persen sampah di Banyumas telah terkelola, baik melalui TPST, pengolahan organik, maupun daur ulang plastik.
Adapun sampah yang belum tertangani tersisa sekitar 23 persen.
Ia menargetkan peningkatan pengelolaan plastik yang belum dapat diolah menjadi bijih plastik untuk memproduksi plastik kualitas menengah atau pallet.
Banyumas Kekurangan 12 TPST, Berpeluang Dapat Bantuan Rp 100 Miliar dari World Bank.
Dalam kesempatan itu, Sadewo mengungkapkan kebutuhan pembangunan 12 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) baru di Banyumas.
Total anggaran kebutuhan mencapai lebih dari Rp72 miliar, ditambah pengadaan dump truck.
Pemkab Banyumas membuka peluang mendapatkan bantuan pendanaan dari World Bank hingga Rp 100 miliar, meski harus bersaing dengan Pemerintah Kota Surabaya.
“Nanti akan dipilih sistem pengolahan.
Di Surabaya ada dua model, yaitu seperti yang kita jalankan sekarang dan yang satu lagi menjadi energi,” ujarnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyumas, Widodo Sugiri, mengatakan sebelum MOU ditandatangani, Pemkab telah melakukan uji coba pengiriman RDF ke Semen Bima.
“Per hari uji coba baru satu sampai dua tronton atau sekitar 20 ton per hari.
Setelah MOU ini, harapannya kita bisa memenuhi kuota minimal 60 ton per hari,” kata Widodo.
Dari sisi ketersediaan material, potensi RDF dari TPA (BLE) Kaliori diperkirakan mencapai 100 ton per hari.
Direktur Utama PT Sinar Tambang Artha Lestari (Semen Bima), Cahyadi Wijaya, menyampaikan pihaknya menyambut baik kerja sama ini.
Menurutnya, Banyumas akan menjadi prioritas pasokan RDF karena lokasi pabrik berada di wilayah setempat.
“Sebagai Semen Bima lokasinya di Banyumas, otomatis Banyumas diprioritaskan.
Soal harga masih dalam pembicaraan, yang penting ada patokan bersama,” ujar Cahyadi.
Ia menambahkan, sejumlah mesin pendukung pengolahan RDF sedang dipersiapkan dan ditargetkan selesai pada April 2026.
