Raden Ajeng Kardinah Dirikan Rumah Sakit di Tegal dari Uang Penjualan Buku-Bukunya
www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah,2 November 2025-Tepat pada 98 tahun lalu di tanggal 2 November 1927, cikal bakal RSUD Kardinah Tegal berdiri dengan nama Kardinah Zikenhuis di Jalan Karel Sasuit Tubun Tegal.
Penggagas dan pendirinya adalah Raden Ajeng Kardinah, adik dari sosok pahlawan nasional bernama RA Kartini.
Dia mendirikan rumah sakit untuk membantu masyarakat umum dengan modal sebanyak 16 ribu gulden, uang dari hasil penjualan buku dan kompensasi sekolah Wismo Pranowo.
Sejarah itu dibacakan oleh Plt Direktur RSUD Kardinah, dr Lenny Harlina Herdha Santi dalam upacara peringatan HUT ke-98 RSUD Kardinah Kota Tegal, Minggu (2/11/2025).
Leni menyampaikan, RA Kardinah merupakan putri kelahiran Jepara yang lahir pada Selasa Pahing, pada 1 Maret 1881.
Dia merupakan anak dari Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah.
Sejak kecil, Kardinah diasuh oleh ibunya dan neneknya putri Demak, bernama Raden Ayu Pangeran Ario Tjondro Negoro IV.
“Kardinah disebut anak yang beruntung, karena kelahirannya dinanti-nantikan dan disaksikan oleh eyang puterinya. Dengan lahirnya Kardinah, Kartini mempunyai dua adik, yaitu Roekmini dan Kardinah,” kata Leni.
Dalam sejarah yang dibacakan oleh Leni, tatkala sudah agak besar, ketiga puteri ini merupakan ‘Tiga Sauda’ yang tidak pernah berpisah.
Setelah cukup dewasa mereka dimasukan ke Sekolah Belanda 2e Klasse Hollandsce School di Jepara.
“Pada Januari 1902, ibu RA Kardinah menikah dengan RM Rekso Harjono atau anak dari RM Ario Reksonegoro (Bupati Tegal). RM Rekso Harjono pada saat itu adalah patih Pemalang, sehingga ibu Kardinah mengikuti suaminya,” ungkapnya.
Dirikan Wismo Pranowo
Leni mengungkapkan, RA Kardinah pindah ke Tegal mulai 16 Juni 1908, ketika itu suaminya RM Rekso Harjono ditetapkan menjadi Bupati Tegal menggantikan ayahnya.
Setelah beberapa bulan menetap di Tegal, Kardinah mulai menjalankan tugasnya sebagai istri bupati, beranjangsana ke lingkungan kerabat baik Jawa maupun Belanda.
Kardinah masih memegang teguh cita-cita tiga saudara, apalagi setelah Kardinah menerima kiriman buku dari Abendanon Door Duisternis tot Licht yang memuat surat-surat Kartini.
“Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian terhadap kemajuan kaum perempuan, Kardinah sangat berkeinginan mencerdaskan kaum perempuan agar menguasai berbagai kepandaian,” katanya.
Ketika itu, Kardinah bersikeras untuk membuat sekolah khusus perempuan di Tegal.
Dia mencari dana sendiri dengan menulis buku, yaitu 2 jilid buku masak dan 2 jilid buku membatik.
Buku-buku itu terjual laris, dari hasil penjualannya itulah Kardinah mendirikan sekolah Kepandaian Putri untuk gadis pribumi yang diberi nama Wismo Pranowo.
“Gedung ini bertempat di halaman depan Kabupaten Tegal yang saat ini menjadi kompleks perkantoran Pemkot Tegal. Untuk penyelenggaraannya Kardinah mendapat bantuan dari Ki Hajar Dewantoro,” jelasnya.
Di sekolah tersebut, Kardinah juga mengajarkan semua siswa membatik dengan buku penuntun yang ditulisnya sendiri.
Upaya Kardinah dalam memperkenalkan hasil karya batik bukan saja untuk dipakai sendiri melainkan dipamerkan.
Batik Tegal yang saat ini cukup dikenal secara luas juga tidak lepas dari perjuangan Kardinah.
Dirikan Rumah Sakit
Dalam sejarah yang dibacakan Leni, Rumah Sakit Kardinah dibangun di Jalan Karel Sasuit Tubun Tegal yang dikenal dengan Kejambon
RS ini dibangun dengan hasil penjualan buku dan kompensasi sekolah Wismo Pranowo yang diambil alih pemerintah Belanda.
Kardinah berhasil menghasilkan uang 16.000 gulden, jumlah yang sangat besar pada masa itu.
“Semula Kardinah bermaksud mendirikan sebuah rumah sakit kecil untuk bersalin. Pada tahun 1927 rumah sakit yang diidam-idamkan Kardinah berdiri, rumah sakit baru untuk masyarakat umum diberi nama Kardinah Zikenhuis,” jelasnya.
Leni mengatakan, pada saat itu Pemerintah Kota Tegal menghibahkan tanah seluas 3,5 bouw, 1 bouw sama dengan 0,7 hektar.
Data dan fakta sejarah itu diambil dari beberapa referensi, di antaranya Koran De-Locomotief 24 Mei 1927, Koran De-Locomotief 20 Juli 1927, Koran De-Locomotief 2 November 1927, Sumatra Bode 4 Februari 1925, dan Surat Kabar Batavia Niewsblaad.
Peletakan batu pertama pembangunan RS Kardinah dilakukan pada 10 Maret 1927 dengan bukti muat pemberitaan pada 11 Maret 1927.
“Pada Juni terdapat pemberitaan yang menyebutkan rencana peresmian pada bulan Oktober, tetapi dalam perkembangannya peresmian itu baru terlaksana pada 2 November 1927,” paparnya.
RA kardinah meninggal dunia di usia 90 tahun, pada 4 Juli 1971. Dia dimakamkan di komplek Pemakaman Amangkurat Kabupaten Tegal, bersebelahan dengan makam suaminya.
