SKB Blora Fokus Bekali Peserta Didik Keterampilan untuk Kemandirian

www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah, 25 April 2026-Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Blora sebagai satuan pendidikan nonformal di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten Blora terus menegaskan komitmennya dalam memberikan pendidikan inklusi dan kesetaraan melalui program Paket A, B, dan C.

Selain pembelajaran akademik, SKB Blora juga menitikberatkan pada pemberdayaan dan keterampilan sebagai bekal utama bagi peserta didik.

Kepala SKB Blora, Jumini, menyampaikan bahwa keterampilan merupakan bagian wajib dalam pendidikan kesetaraan.

“Pemberdayaan dan keterampilan itu menjadi ciri khas yang harus diberikan kepada peserta didik. Ini yang membedakan SKB dengan pendidikan formal,” terangnya, Sabtu (25/4/2026).

Menurut Jumini, tujuan utama dari program keterampilan ini adalah agar lulusan memiliki kemampuan fungsional yang dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan.

Tidak hanya mampu memproduksi, peserta didik juga dibekali kemampuan mengemas dan memasarkan produk, serta membaca peluang usaha berbasis potensi lokal.

Beragam program vokasi disediakan SKB Blora. Di antaranya adalah keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang menjadi kompetensi dasar bagi seluruh peserta didik.

Selain itu, terdapat pelatihan tata busana yang dimulai dari pembuatan desain sederhana seperti daster, hingga pengembangan ke produk yang lebih kompleks.

Di bidang seni, peserta didik diajarkan membatik dengan pendekatan kontemporer seperti teknik ciprat, remet, hingga ecoprint yang ramah lingkungan.

Tak hanya itu, menurut Jumini SKB Blora juga menyediakan pelatihan pembuatan hantaran pengantin, tata rias, serta tata boga.

Program tata boga, kata Jumini, bahkan menjadi salah satu unggulan dengan fasilitas laboratorium boga yang ada.

“Setelah kami ajarkan ini, banyak lulusan dari SKB yang telah mandiri dengan memproduksi dan menitipkan jajanan di pasar.”

“Kami juga melihat ada peserta didik yang sudah mampu membuka usaha sendiri, seperti toko snack,” terangnya.

Program lainnya yang turut diajarkan ke peserta didik di SKB, yakni pelatihan barista, budidaya lele dengan sistem bioflok, serta pengolahan hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah seperti lele bumbu.

Selain itu, terdapat pula pelatihan hidroponik untuk budidaya sayuran.

Dengan ragam keterampilan yang diajarkan itu, Jumini berharap setiap peserta didik dapat menemukan minat dan potensi terbaiknya, dan bisa menjadi bekal mereka setelah lulus.

“Harapannya, mereka bisa mandiri setelah lulus dan mampu menciptakan peluang usaha sendiri,” paparnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data SKB Blora, total peserta didik mencapai sekitar 1.100 orang yang tersebar mulai dari jenjang PAUD, Paket A, Paket B, hingga Paket C.

Latarbelakang anak-anak yang masuk di SKB cukup beragam.

Mulai dari penyandang disabilitas, anak-anak istimewa, dan anak-anak yang sebelumnya punya masalah di sekolah formal, seperti korban bullying.