Waduh Gawat, Ternyata Kota Semarang Belum Punya Early Warning System Longsor

www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah, 25 Februari 2026-Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Semarang menyatakan hingga awal 2026 Kota Semarang belum mempunyai sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) khusus untuk mendeteksi pergerakan tanah atau tanah longsor.

Saat ini, perangkat EWS yang tersedia masih difokuskan pada bencana hidrometeorologi, terutama banjir.

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto, menjelaskan bahwa sistem peringatan dini di ibu kota Jawa Tengah memang dirancang untuk memantau risiko berbasis air.

“Semarang memang fokus early warning system untuk water ‘air’.

Kalau yang untuk early warning system tanah longsor, di Jawa Tengah ini cuma ada dua,” kata Endro, Selasa (24/2/2026).

Ia menyebutkan, dua wilayah di Jawa Tengah yang telah memiliki EWS tanah longsor berada di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di kawasan lereng Gunung Lawu, serta di Kabupaten Cilacap.

BPBD Lobi Pemprov Jateng untuk Dukungan EWS Longsor

Menurut Endro, pihaknya kini melakukan komunikasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah guna mengupayakan bantuan pemasangan EWS longsor di sejumlah titik rawan di Kota Semarang.

“Kita sedang coba pendekatan dengan (pemerintah) Provinsi, apakah ini sesuai kajian mereka akan bisa diberikan bantuan.

Ini kita sedang coba lobi-lobi karena kenyataan yang terjadi Semarang ini memang cukup rentan dengan tanah longsor juga,” katanya.

Data BPBD menunjukkan bahwa sepanjang 2026, kejadian tanah longsor menjadi bencana yang paling sering terjadi di Kota Semarang.

Posisi berikutnya ditempati insiden rumah roboh akibat angin kencang, kebakaran, dan banjir.

Fenomena pergerakan tanah juga menjadi perhatian serius, terutama di wilayah Sekip, Kelurahan Jangli, serta Deliksari, Kelurahan Sukorejo.

Kondisi geologi yang labil dinilai meningkatkan potensi kerusakan infrastruktur dan permukiman warga.

Wali Kota Soroti Dampak Infrastruktur dan Pascagempa Pacitan

Agustina Wilujeng Pramestuti turut menanggapi meningkatnya kasus tanah longsor dan pergerakan tanah di sejumlah titik Kota Semarang.

Ia mengakui adanya kekhawatiran masyarakat pascagempa yang terjadi di Pacitan beberapa waktu lalu.

Agustina mengungkapkan bahwa dampak yang dirasakan saat ini lebih banyak pada kerusakan infrastruktur dan bangunan warga.

“Memang pasca gempa di Pacitan itu kita entah benar entah tidak, tapi merasa longsoran tanah itu semakin besar. Apakah ada hubungannya dengan itu, kami enggak tahu.

Tapi yang kita rasakan adalah jalan tiba-tiba bolong, jalan retak, jalan longsor, kemudian rumah longsor, rumah bergeser banyak sekali,” katanya.

Pemerintah Kota Semarang, lanjutnya, akan meningkatkan kesiapsiagaan terutama di kawasan rawan longsor.

Ia juga berharap kondisi cuaca segera memasuki masa pancaroba menuju musim kemarau agar potensi bencana dapat ditekan.

“Kita harus stand by ya.

Doakan mudah-mudahan ini segera berakhir dan mungkin kita kalau sudah masuk ke Pancaroba untuk ke musim kemarau, ini akan menjadi lebih aman bagi penduduk yang ada di daerah-daerah rawan longsor,” imbuhnya.

Pengungsi Tanah Gerak Tegal Diserang Penyakit

Dua pekan lebih pasca bencana tanah bergerak melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, pengungsi baik warga ataupun santri-santriwati mulai mengeluhkan beberapa kondisi kesehatan.

Sesuai pantauan Tribunjateng.com di posko pengungsian masuk kawasan Pondok Pesantren Al-Adalah dua Desa Capar, Kecamatan Jatinegara, terlihat beberapa santriwati sedang antre hendak periksa kesehatan.

Empat santriwati menunggu giliran untuk memeriksakan kesehatan sekaligus meminta obat kepada tenaga kesehatan yang stanby berjaga di Posko Kesehatan PSC 119 Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal.

Selain memeriksakan kesehatan dan mendapat obat, santriwati juga diberi edukasi terutama selama menjalankan puasa.

Tenaga kesehatan memberi keterangan mengenai kapan harus meminum obat, bagaimana caranya karena ada satu obat yang harus dikunyah karena untuk radang tenggorokan.

Sebelumnya santriwati juga diperiksa kondisi kesehatannya seperti tekanan darah, kondisi pernapasan, suhu badan dan kondisi kulit yang mengalami gatal-gatal.

Santriwati Ponpes Al-Adalah asal Desa Padasari bernama Arini, datang periksa ke posko kesehatan PSC 119 diantar teman-temannya.

Saat ditanya, Arini mengaku mengalami gejala gatal-gatal, bintik merah, batuk, pilek dan merasa mual.

Gejala tersebut sudah dialami Arini beberapa hari terakhir tepatnya saat awal puasa.

Arini pun menyampaikan semua keluhan yang dirasakan kepada petugas kesehatan yang berjaga.

“Saya merasa gatal-gatal dan ada bintik merah di bagian tangan. Selain itu saya juga batuk dan merasa mual sudah beberapa hari terakhir. Ya ini periksa ke posko kesehatan memanfaatkan fasilitas yang ada. Sangat terbantu karena tidak perlu jauh-jauh ke puskesmas karena kondisinya juga sulit,” ujar Arini, pada Tribunjateng.com.

Sementara itu, Kabid Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinkes sekaligus Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Tegal Siti Iva Rifda Chomsiyah menjelaskan, setiap harinya banyak warga ataupun santri-santriwati yang datang ke posko untuk memeriksakan kesehatan.

Seperti pada Senin (23/2/2026), ada enam orang yang periksa kesehatan semuanya santriwati.

“Keluhannya rata-rata mengalami batuk, pilek, dan ada satu santri tangannya terkena air panas tapi kondisinya tidak parah dan sudah tertangani,” jelas Siti Iva Rifda.

Diterangkan Siti Iva, Tenaga kesehatan yang tergabung dalam IBI cabang Kabupaten Tegal setiap harinya bergantian berjaga di posko kesehatan tersebar di beberapa titik satu di antaranya di Ponpes Al-Adalah dua.

Tenaga kesehatan yang bertugas di posko kesehatan Al-Adalah dua sebanyak empat orang berasal dari puskesmas dan lainnya terutama di bawah Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal.

Selain di Ponpes Al-Adalah dua, posko kesehatan juga ada di posko pengungsian pak kamal, di rumah bidan desa, rumah pak lurah dan satu di Desa Penujah.

Adapun posko kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal berdiri sejak awal terjadi bencana tanah bergerak.

Posko kesehatan buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB sampai 19.00 WIB.

“Keluhan yang dialami pengungsi khususnya di Ponpes Al-Adalah dua mayoritas batuk, pilek, diare, gatal-gatal. Untuk diare mungkin karena pola makan apalagi ini juga sedang puasa,” terangnya.

Dikatakan Siti Iva, petugas yang piket di posko kesehatan berasal dari berbagai rumah sakit negeri maupun swasta, puskesmas, klinik, organisasi profesi dan lainnya.

Sejauh ini ada satu pengungsi yang dirujuk karena melahirkan, kemudian ada juga yang mengalami patah tulang.

Untuk tenaga kesehatan selain stanby di posko, juga jemput bola keliling mendatangi warga yang mengungsi.

“Fasilitas yang ada di sini obat-obatan ringan untuk penanganan pertama atau sementara. Jika membutuhkan penanganan lebih maka akan dirujuk ke puskesmas terdekat ataupun rumah sakit yang lebih lengkap,” ungkapnya.