Waspada! Hujan Lebat Bayangi Libur Panjang Nataru di Cilacap, Cuaca Sangat Labil

www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah, 13 Desember 2025-Menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, langit Cilacap kian sulit ditebak seiring meningkatnya potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem yang mengintai wilayah darat hingga perairan selatan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung menyalakan peringatan dini agar masyarakat tidak lengah menghadapi perubahan cuaca yang semakin agresif.

Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo menyebut, Desember menjadi periode krusial dengan curah hujan yang diprakirakan melonjak tajam.

“Curah hujan bulan Desember ini berada pada kisaran 300 sampai 500 milimeter per bulan, yang sudah masuk kategori tinggi hingga sangat tinggi,” kata Teguh, Sabtu (13/12/2025).

Lonjakan hujan tersebut membawa konsekuensi serius berupa ancaman banjir, tanah longsor, sambaran petir, dan angin kencang yang dapat muncul tanpa banyak tanda.

“Dengan intensitas hujan setinggi ini, potensi bencana hidrometeorologi tentu meningkat di berbagai wilayah,” ujarnya.

BMKG mencatat kondisi atmosfer di Cilacap saat ini berada dalam fase sangat labil sehingga perubahan cuaca bisa terjadi nyaris seketika.

“Cuaca sekarang sangat dinamis, bahkan dalam hitungan detik bisa berubah, seperti yang kami amati di stasiun meteorologi,” ungkap Teguh.

Untuk mengimbangi kondisi tersebut, BMKG melakukan pemantauan atmosfer tanpa henti dan merilis peringatan dini secara berkala setiap tiga jam.

“Kami terus memantau 24 jam penuh dan menyampaikan peringatan dini agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi lebih awal,” jelasnya.

Ancaman cuaca ekstrem tak hanya menghantui daratan, tetapi juga membayangi perairan selatan Cilacap yang menjadi nadi aktivitas nelayan.

“Saat ini gelombang masih di kisaran 1,5 hingga 2,5 meter, namun potensi gangguan cuaca tetap perlu diwaspadai,” katanya.

Potensi Bibit Siklon Tropis 

BMKG turut menyoroti potensi munculnya bibit siklon tropis dan fenomena waterspout atau puting beliung laut yang kerap lahir di tengah ketidakstabilan cuaca.

“Jika di musim hujan terjadi panas beberapa hari, awal hujannya sering disertai angin kencang atau puting beliung,” ujar Teguh.

Di tengah langit yang kian tak bersahabat, harapan muncul dari meningkatnya literasi cuaca nelayan Cilacap berkat Sekolah Lapang Cuaca Nelayan.

“Nelayan kini tidak lagi melaut dengan menantang badai, tetapi sudah mengetahui kapan waktu aman dan di mana ikan berada, sehingga keselamatan mereka jauh lebih baik,” pungkas Teguh.