www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah,3 September 2026-Harga daging ayam ras menjadi salah satu pemicu utama kenaikan inflasi di Purwokerto dan Cilacap pada Agustus 2026.
Kenaikan harga tersebut terjadi seiring meningkatnya permintaan pada momentum Hari Kemerdekaan dan Maulid Nabi.
Di sisi lain, tekanan inflasi juga datang dari sejumlah komoditas hortikultura, terutama cabai rawit, buncis, dan kacang panjang, yang mengalami kenaikan harga akibat penurunan produksi di beberapa daerah sentra produksi.
Berdasarkan pantauan harga ayam ras di Pasar Tradisional di Banyumas per hari ini berada di angka Rp42 ribu per kilogram.
“Masih mahal harga ayam pasca libur panjang bulan kemarin, sekarang Rp42 kilogram.
Kembali tinggi, seperti seminggu sebelum MBG libur, waktu libur kisaran dibawah itu. Tapi tidak tahu juga krisis ekonomi mungkin,” kata pedagang ayam di Pasar Jatilawang, Muji Lestari.
Adapun data Badan Pusat Statistik (BPS), Purwokerto mencatat inflasi bulanan sebesar 0,39 persen (mtm) pada Agustus 2026.
Secara tahunan, inflasi Purwokerto mencapai 3,15 persen (yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli 2026.
Pada bulan sebelumnya, Purwokerto justru mengalami deflasi sebesar 0,05 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 2,66 persen (yoy).
Sementara itu, inflasi di Cilacap pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,50 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Cilacap mencapai 3,08 persen (yoy).
Kondisi tersebut juga meningkat dibandingkan Juli 2026 yang mencatat deflasi sebesar 0,06 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 2,44 persen (yoy).
Meski demikian, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto menyebut perkembangan inflasi di Purwokerto dan Cilacap masih terjaga dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Kenaikan harga daging ayam ras menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi di Purwokerto dan Cilacap.
Dari sisi hulu, kenaikan harga tersebut turut dipengaruhi meningkatnya biaya produksi peternak.
Kondisi itu sejalan dengan kenaikan harga pakan dan day-old chick (DOC).
Selain daging ayam ras, tekanan inflasi juga berasal dari komoditas hortikultura.
Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain cabai rawit, buncis, dan kacang panjang.
Kenaikan harga komoditas tersebut dipengaruhi penurunan produksi di sejumlah daerah sentra produksi.
Kenaikan harga emas perhiasan juga memberikan tekanan terhadap inflasi.
Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan domestik serta perkembangan harga emas global.
Namun, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas.
Komoditas yang mengalami penurunan harga tersebut antara lain bawang merah, bawang putih, bensin, dan telur ayam ras.
Apabila dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi di Banyumas Raya terutama bersumber dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.
Di Purwokerto, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami inflasi sebesar 1,12 persen (mtm) dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,33 persen (mtm).
Selain kelompok tersebut, inflasi Purwokerto juga didorong kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya.
Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,35 persen (mtm) dengan andil sebesar 0,02 persen (mtm).
Kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga juga mengalami inflasi sebesar 0,29 persen (mtm) dengan andil sebesar 0,02 persen (mtm).
Sementara di Cilacap, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami inflasi sebesar 1,32 persen (mtm) dengan andil sebesar 0,42 persen (mtm).
Inflasi Cilacap juga bersumber dari kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga yang mengalami inflasi sebesar 0,47 persen (mtm) dengan andil sebesar 0,02 persen (mtm).
Selain itu, kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan mengalami inflasi sebesar 0,28 persen (mtm) dengan andil sebesar 0,02 persen (mtm).
“Bank Indonesia menilai terjaganya inflasi Banyumas Raya merupakan hasil konsistensi kebijakan Bank Indonesia yang didukung sinergi pengendalian inflasi bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Upaya tersebut juga diperkuat dengan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Aswin Gantina kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (3/9/2026).
Selama Agustus 2026, berbagai upaya pengendalian inflasi terus dilaksanakan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai wilayah.
GPM dilaksanakan di Desa Mandirancan, Banjarsari, Langgongsari, Gandatapa, dan Kutaliman.
Selain itu, dilakukan pendampingan kepada petani cabai untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Sinergi pengendalian inflasi juga diperkuat melalui Toko Tani mingguan.
Program tersebut dilakukan untuk memperpendek jalur distribusi pangan.
Koordinasi juga dilakukan melalui rapat mingguan bersama pedagang besar, asosiasi, dan kelompok tani.
Di sisi komunikasi, penyampaian informasi kepada media massa terkait berbagai upaya pengendalian inflasi di Banyumas Raya terus diperkuat.
Langkah tersebut dilakukan menjaga ekspektasi masyarakat sekaligus memperluas publikasi mengenai sinergi TPID dalam menjaga stabilitas harga.
Ke depan, TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat pengendalian inflasi dalam kerangka Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Strategi yang digunakan mencakup 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Strategi tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung inflasi agar tetap terkendali dalam sasaran inflasi nasional.
