www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah,24 September 2026-Kenaikan harga padi sebagai bahan baku beras merupakan hal yang ditunggu para petani.
Namun berbanding terbalik dengan para pedagang, mereka mengeluhkan kenaikan harga padi yang membuat harga jual ikut naik.
Adanya bantuan beras dari Bulog, merupakan program bantuan sosial (bansos) yang dilakukan Pemerintah kepada warga yang terdata tidak mampu.
Junaedi (37) mengatakan, dirinya merupakan pedagang beras yang langsung mengambil padi dari petani dan langsung di selip agar bisa menjadi barang siap jual di pasaran dan menjadi bahan pangan rumah tangga.
Ia menerangkan, harga padi saat panen dimulai tidak begitu tinggi, namun karena ketersediaan bahan yang langka saat ini, harga padi dari petani menjadi mahal.
“Pas awal panen Rp 8200 sampai Rp 8300, sekarang ada kenaikan ke Rp 8800 sampai Rp 8900 perkilonya, bahkan ada yang narik Rp 9000 untuk kualitas yang bagus yang super,” ungkapnya, Kamis (24/9/2026).
Ia menambahkan harga padi kemungkinan tidak ada penurunan, kelangkaan bahan baku yang ada di lumbung padi ataupun pengusaha selip membuat kenaikan harga bahan terus menerus.
“Untuk harga jual berasnya pas awal panen bisa di Rp 13000, tapi karena sekarang ketersediaan bahan mulai langka dan mahal, dari pengepul sudah Rp 13500 , jadi para pedagang eceran menjual Rp 14000 sampai Rp 14500,” tambahnya.
Adapun upaya pemerintah menurunkan harga beras di pasar yaitu membagikan beras bantuan sebesar 30kg kepada masyarakat yang terdata.
Pedagang atau pengepul yang sudah terlanjur membeli padi saat harga tinggi, mengeluhkan harga jual yang dipaksa turun di pasaran yang membuat semakin tipis keuntungan.
Pemerintah menyarankan kepada para pedagang, menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) dari harga pasaran sekarang, hal ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu yang tidak menerima bantuan sosial (bansos) agar tidak keberatan membeli beras.
