www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah,16 Juli 2026-Upaya menjaga kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati di Kabupaten Batang kini diperkuat dengan lahirnya 20 kader konservasi alam tingkat pemula.
Mereka dipersiapkan sebagai garda terdepan yang akan mengedukasi masyarakat sekaligus terlibat langsung dalam upaya perlindungan ekosistem di tingkat desa.
Kader-kader tersebut mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Teknis Pembentukan Kader Konservasi Alam Tingkat Pemula yang diselenggarakan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan PT Bhimasena Power Indonesia (BPI).
Pelatihan berlangsung selama tiga hari, 13–15 Juli 2026, di Sedawung Hills, Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang.
Sebanyak 20 peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pegiat lingkungan Desa Tombo, komunitas pemerhati burung Desa Pacet, hingga karyawan PT Bhimasena Power Indonesia.
Komposisi peserta yang beragam ini diharapkan mampu membangun jejaring konservasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV DLHK Provinsi Jawa Tengah, Gunawan, mengatakan tantangan konservasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan perlindungan kawasan hutan, tetapi juga bagaimana membangun kesadaran masyarakat agar ikut menjaga lingkungan secara mandiri.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga kelestarian alam.
Karena itu, keberadaan kader konservasi di tingkat akar rumput menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat upaya perlindungan ekosistem.
“Melalui diklat ini peserta memperoleh bekal mulai dari kehutanan umum, dasar ekologi, hingga praktik identifikasi flora dan fauna. Harapannya mereka mampu menjadi pelopor pelestarian hutan di wilayah masing-masing,” kata Gunawan , Kamis (16/7/2026).
Dia menambahkan, kader konservasi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, tetapi mampu mengembangkan berbagai aksi nyata, seperti edukasi lingkungan, pemantauan satwa liar, rehabilitasi kawasan, hingga mendukung pengembangan wisata berbasis konservasi.
Kolaborasi tersebut juga mendapat dukungan penuh dari sektor swasta.
General Manager Stakeholder Relation PT Bhimasena Power Indonesia, Aryamir H. Sulasmoro, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan pembangunan yang berkelanjutan.
Menurutnya, menjaga keanekaragaman hayati membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga kalangan akademisi.
Karena itu, perusahaan memilih berkontribusi melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang nantinya akan menjadi motor penggerak konservasi di lapangan.
“Sinergi ini menjadi wujud kepedulian perusahaan terhadap kelestarian lingkungan. Kami berharap lahir berbagai inisiatif hijau baru dari para peserta yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendorong masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan,” kata Aryamir.
Sementara itu, Kepala Desa Tombo, Mustajab, menilai dipilihnya wilayahnya sebagai lokasi pelatihan merupakan peluang besar untuk mengembangkan potensi desa berbasis konservasi.
Desa Tombo selama ini dikenal memiliki kawasan hutan dengan potensi keanekaragaman hayati yang masih terjaga.
Kehadiran kader konservasi diharapkan mampu menjadi penggerak dalam menjaga kawasan tersebut sekaligus mendukung pengembangan wisata alam secara berkelanjutan.
“Kami siap mendukung para kader setelah pelatihan selesai agar ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan di lapangan. Harapan kami, Desa Tombo dapat berkembang menjadi desa konservasi yang mampu menjaga alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ucap Mustajab.
Selama tiga hari pelatihan, peserta memperoleh materi dari berbagai instansi dan praktisi yang kompeten.
Materi meliputi kehutanan umum, pembinaan cinta alam, dasar konservasi, pengenalan flora dan fauna Indonesia, kepemimpinan, dasar ekologi, pengelolaan wisata alam, hingga penanganan keadaan darurat dan pencarian serta pertolongan.
Puncak kegiatan ditandai dengan praktik lapangan di kawasan hutan Desa Tombo.
Peserta melakukan identifikasi flora dan fauna, survei serta monitoring tumbuhan dan satwa liar dengan pendampingan tim Kelompok Pemerhati Alam (KPA) Haliaster Departemen Biologi Universitas Diponegoro.
Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenali kekayaan hayati di kawasan hutan Batang serta metode pemantauan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Diklat ini menjadi salah satu langkah konkret memperkuat gerakan konservasi berbasis masyarakat di Kabupaten Batang.
Kehadiran kader-kader baru diharapkan mampu menjadi penghubung antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan dunia usaha dalam menjaga kelestarian hutan, melindungi keanekaragaman hayati, serta memastikan pemanfaatan sumber daya alam tetap berlangsung secara bijaksana untuk generasi mendatang.
