www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah,15 Juni 2026-Aliansi Mahasiswa Universitas Sultan Agung Semarang (Unissula) Semarang melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Pertamina Jateng-DIY Jalan MH Thamrin Semarang, Senin (15/6/2026).
Aksi tersebut dilakukan di depan pintu gerbang utama PT Pertamina yang dimulai dengan aksi membakar foto Prabowo-Gibran serta logo Pertamina.
Pembakaran tersebut sebagus simbol kekecewaan mahasiswa terhadap kepemimpinan Prabowo-Gibran dalam menjaga stabilitas harga BBM.
Massa aksi juga sempat memblokade jalan sekira 30 menit.
Alhasil, arus lalu lintas dari Jalan Depok, Jalan Tanjung, dan Jalan Kapten Piere Tendean sempat mengalami kemacetan.
Peserta aksi yang mencapai sekira 100 mahasiswa tersebut juga membawa poster cukup besar bertuliskan “Gedung Ini Milik Rakyat Kita”.
Namun poster ini akan pasang mahasiswa di aksi demonstrasi selanjutnya yakni di depan kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan Semarang.
Di sela aksi mahasiswa, Area Manager Communication, Relations, dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan menemui peserta aksi.
Saat menemui massa, Taufiq melontarkan pernyataan bahwa kenaikan harga BBM seperti Pertamax atau RON 92 lebih murah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Singapura yang sudah mencapai harga di atas Rp20 ribu perliter.
Namun pernyataan tersebut langsung dibantah oleh mahasiswa.
“Jangan bodohi kami,” teriak mahasiswa kompak.
“Kami tidak bodoh-bodoh amat, Pak.” timpal mahasiswa lainnya.
Massa aksi sempat memanas selepas mendengar pertanyaan Pertamina tersebut, tetapi koordinator aksi langsung meredam kemarahan massa.
“Dengerin dulu saja.” ujar koordinator aksi, Tegar wijaya Mukti.
Selepas itu, Taufiq kembali menjelaskan, harga Pertamax atau RON 92 di Indonesia yang dipatok sekira Rp16 ribu memang lebih murah dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara.
Di Singapura jenis BBM ini sudah mencapai harga Rp40 ribu perliter.
Sementara Filipina dan Malaysia sudah diharga Rp20 ribu perliter.
“Kami menaikkan harga BBM nonsubsidi ini paling terakhir dan jauh masih lebih murah dibandingkan negara-negara lain di ASEAN,” klaimnya.
Menanggapi tudingan mahasiswa bahwa narasi pembanding tersebut tidak sepadan, Taufiq justru menilai harga itu masih dapat dijangkau oleh upah UMR warga Jateng-DIY.
“Banyak faktor tidak hanya pendapatan, tapi kami jamin dibandingkan dengan kurs yang sama untuk menjangkau masyarakat dengan UMR di Jateng-DIY, sudah paling murah di antara ASEAN lainnya” terangnya.
Klaim Stok 18 Kali Lipat
Selain mendengarkan keluhan mahasiswa soal kenaikan harga BBM, Taufiq juga menanggapi soal kelangkaan elpiji tiga kilogram atau gas melon.
Taufiq menyebut, hal itu akan ditampung pihaknya dan menjadi bahan evaluasi di lapangan.
Pihaknya meminta masyarakat tetap tenang terkait dengan kenaikan harga BBM non subsidi.
Langkah yang sudah dilakukan pihaknya adalah mengubah sistem distribusi BBM terutama untuk memenuhi kebutuhan Pertalite yang meningkat.
Taufiq belum bisa menjelaskan setiap peningkatan kebutuhan ini karena kenaikan harga belum mencapai satu bulan.
“Penyesuaian harga pada 10 Juni 2026, jadi kami harus lihat 10 Juli 2026, agar data akurat,” bebernya.
Pihaknya memastikan kebutuhan BBM Jateng-DIY bakal aman karena stok di kawasan ini rata-rata 14 hingga 18 kali dari dari konsumsi normal.
Persisnya kategori bensin seperti Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo stok mencapai 14 kali lipat dari konsumsi normal. Jenis lainnya seperti Solar dan Dexlite mencapai 18 kali lipat.
Artinya, meskipun ada konsumsi meningkat 14-18 kali lipat dari angka kebutuhan normal Pertamina masih bisa mengatasi.
“Sejauh ini tidak ada laporan kelangkaan Pertalite di Jateng-DIY, kami distribusi terus tidak kenal waktu agar jangan sampai kosong di pasaran,” bebernya.
Narasi Salah, Pertamax Lebih Murah
Koordinator Alinasi Mahasiswa Unissula Semarang, Tegar wijaya Mukti mengatakan, narasi Pertamina soal Pertamax lebih murah dibandingkan negara ASEAN lainnya tidaklah benar.
Mereka membandingkan hal yang tidak setara karena penghasilan UMK warga Jateng-DIY masih kalah jauh dengan Singapura dan Malaysia.
“Saya bantah, pendapatan dengan Singapura, Malaysia tidak appel to apple karena mereka pendapatannya tinggi dibandingkan Indonesia,” terangnya.
Dia melanjutkan, aksi demonstrasi ini untuk memprotes atas kelangkaan stok gas elpiji 3 Kg yang sudah dirasakan oleh masyarakat sejak Februari sampai Juni 2026 ini.
Kemudian ada temuan mahasiswa soal penggelembungan harga elpiji 3 kilogram yang harga asli Rp16 ribu tetapi dipatok harga Rp30 ribu.
“Tentu, yang tidak terlewat adalah soal kenaikan harga BBM,” ungkapnya.
Selepas aksi tersebut, para mahasiswa lantas bergeser ke Jalan Pahlawan Semarang untuk bergabung dengan Aliansi BEM se Semarang Raya.
