www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah,16 Juni 2026-Bertahun-tahun lahan pertanian di kawasan pesisir Kabupaten Batang tepatnya di kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Batang perlahan berubah wajah, sawah yang dahulu hijau kini banyak tergenang akibat rob dan intrusi air laut.
Dalam lima tahun terakhir, perubahan bentang lahan di wilayah pesisir bahkan berlangsung begitu cepat hingga ratusan hektare lahan pertanian terdampak salinitas tinggi dan kehilangan produktivitasnya.
Di tengah tantangan tersebut, Kabupaten Batang mencoba membalik keadaan.
Melalui Program Minapadi Salin yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kabupaten Batang, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, PT Perusahaan Gas Negara (PGN), akademisi, dan kelompok tani, lahan yang selama ini dianggap tidak produktif mulai diubah menjadi kawasan produksi pangan terpadu berbasis pertanian dan perikanan pesisir.
Program tersebut diluncurkan di kawasan Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Kabupaten Batang, dengan mengusung konsep budidaya terpadu yang menggabungkan padi toleran salinitas, ikan nila salin, dan rumput laut dalam satu sistem produksi.
Bupati Batang M Faiz Kurniawan mengatakan, kondisi lahan pesisir yang terdampak rob menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian daerah.
Berdasarkan pemantauan citra satelit, luas lahan yang terdampak terus bertambah dan kini mendekati 400 hektare.
“Selama ini ada dua kelurahan yang beberapa tahun terakhir terdampak rob. Saya melihat peta citra satelit, dalam lima tahun terakhir perubahannya begitu cepat dan sekarang sudah menyentuh hampir 400 hektare,” kata Bupati Batang , Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh membuat masyarakat menyerah terhadap perubahan alam yang terjadi.
Justru dibutuhkan kemampuan beradaptasi agar lahan yang terdampak masih dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
“Manusia harus adaptif. Kita tidak boleh menyerah dengan alam dan tidak boleh menyerah dengan keadaan. Ini salah satu bentuk kita beradaptasi terhadap perubahan yang ada,” ujarnya.
Sebagai tahap awal, pemerintah bersama BRIN mulai mengembangkan sekitar 30 hektare lahan sebagai lokasi percontohan.
Kawasan tersebut diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi ke seluruh lahan salin di pesisir Batang.
Faiz ingin kawasan yang selama ini hanya dipenuhi genangan air dapat kembali produktif dan menghasilkan pangan bagi masyarakat.
“Ini momentum awal memberikan harapan baru kepada para petani. Setidaknya ada sekitar 30 hektare yang kita jadikan contoh. Harapannya nanti 400 hektare ini benar-benar bisa kembali ditanam sehingga yang semula hijau lalu menjadi genangan air bisa kembali hijau lagi dan dinikmati oleh anak cucu,” ungkapnya.
Program Minapadi Salin tidak hanya berfokus pada budidaya padi.
BRIN merancang sistem produksi terpadu yang menghubungkan sektor pertanian, perikanan, hingga pengolahan hasil sehingga mampu menciptakan nilai ekonomi lebih besar dibandingkan pola tanam konvensional.
Sementara Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, disebutkan bahwa perubahan iklim, intrusi air laut, alih fungsi lahan, serta meningkatnya kebutuhan pangan nasional membutuhkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang dapat diterapkan langsung di masyarakat.
BRIN menilai lahan salin yang selama ini dianggap marginal justru memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sumber pangan dan ekonomi baru apabila dikelola dengan teknologi yang tepat.
Keunggulan program tersebut juga terletak pada penerapan pendekatan Green Manufacturing yang dikembangkan Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN.
Konsep ini tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan dampak lingkungan, serta penciptaan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko menjelaskan, prinsip manufaktur berkelanjutan dapat diterapkan pada sektor pertanian dan perikanan melalui pengelolaan produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Pendekatan tersebut mencakup penggunaan sumber daya secara hemat, penerapan ekonomi sirkular, analisis keberlanjutan berbasis Life Cycle Assessment (LCA), hingga pengembangan rantai nilai dan hilirisasi produk pascapanen.
Selain sistem budidaya, BRIN juga menghadirkan sejumlah inovasi teknologi untuk mendukung produktivitas lahan salin.
Satu di antaranya adalah teknologi Slow Release Fertilizer (SRF) atau pupuk lepas lambat yang dirancang khusus untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pada lahan berkadar garam tinggi.
Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN Hens Saputra menjelaskan, teknologi tersebut memungkinkan unsur hara dilepaskan secara bertahap sesuai kebutuhan tanaman sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan padi pada kondisi salinitas tinggi.
BRIN juga mengembangkan teknologi desalinasi air yang dapat menghasilkan air berkadar garam rendah untuk kebutuhan pertanian.
Sementara hasil samping berupa air tua memiliki potensi dimanfaatkan sebagai bahan baku industri garam.
Periset BRIN Vina Eka Aristya menyebut integrasi teknologi pupuk lepas lambat dan desalinasi air diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan, mengurangi kehilangan unsur hara, meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk, serta memperkuat ketahanan pangan di wilayah pesisir.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Deputi Bidang Sumberdaya Maritim Kemenko Pangan RI, Dandy Satria Iswara menilai pemanfaatan lahan salin menjadi langkah strategis karena mampu menghidupkan kembali lahan yang sebelumnya tidak produktif.
Ia mengapresiasi upaya mengubah lahan yang terdampak rob menjadi area pertanian yang mampu menghasilkan padi hingga sekitar enam ton per hektare.
“Yang tadinya lahan tidak terpakai kemudian dibangun seperti ini, diratakan, dipetak-petakan, lalu ditanam. Ini suatu langkah yang sangat baik dan mudah-mudahan bisa diikuti oleh yang lain,” kata Dandy.
Menurut Dandy, pengembangan padi salin juga berpotensi membuka peluang pasar baru karena penggunaan pupuk yang lebih efisien dan karakter budidayanya yang lebih ramah lingkungan.
Program Minapadi Salin di Batang melibatkan berbagai pihak mulai dari periset lintas disiplin BRIN, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, penyuluh pertanian hingga kelompok tani.
Sejumlah kelompok tani yang menjadi pelaksana lapangan antara lain Gapoktan Sido Barokah Mulyo, Kelompok Tani Intani Kasepuhan, dan Kelompok Tani Dewi Sri VI Depok.
Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi model pengembangan kawasan pertanian dan perikanan terpadu berbasis lahan salin yang dapat diterapkan di berbagai daerah pesisir Indonesia yang menghadapi persoalan serupa.
