25 Kelompok Pelajar SD dan SMP di Jepara Merawat Seni Pertunjukan Kenterung Lewat Festival

www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah,20 Juni 2026-Seni pertunjukan tradisional bernama kenterung lambat lahun semakin ditinggalkan. Kesenian teater tutur dari Jawa yang diiringi alat musik rebana/terbang itu semakin kehilangan arah.

Di beberapa daerah, kesenian kenterung bahkan sudah tiarap lantaran tak ada regenerasi seniman kenterung yang dilakukan.

Di Kabupaten Jepara, Maestro Kenterung kini menyisakan dua seniman yang berusia lebih dari 80 tahun. Bernama Mbah Parmo dan Mbah Ahmadi.

Dua sosok maestro itu bahkan kini sudah tidak muda lagi, dibutuhkan regenerasi yang cepat dan terarah untuk menjaga kesenain tradisional kenterung tidak punah oleh zaman.

Yayasan Jaringan Budaya untuk Perkembangan Jepara (Jungpara) bersama Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara menggelar festival atau lomba kenterung pelajar untuk menghidupkan kesenian tradisional di Kota Ukir.

Kegiatan dimulai dengan edukasi kesenian kenterung menyasar sekolah-sekolah jenjang SD, SMP, dan SMA dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dana Indonesia, dan beberapa pihak terkait lainnya.

Puncak dari edukasi yang dilakukan adalah dengan terselenggarakannya Lomba Kenterung Pelajar se-Kabupaten Jepara.

Ketua Yayasan Jaringan Budaya untuk Perkembangan Jepara (Jungpara), Sarjono (55) mengatakan, ada 720 guru mewakili sekolah masing-masing yang mengikuti workshop edukasi kenterung.

Dari jumlah peserta workshop, 73 sekolah siap tampil dalam festival lomba di tingkat kabupaten. Dimulai dari seleksi tingkat kecamatan pada Mei – awal Juni dengan mekanisme seleksi video penampilan peserta.

“Seleksi tingkat kecamatan ini menggunakan video yang dikirimkan. Penjuriannya awal Juni, juara di tiap-tiap kecamatan berhak melaju ke tingkat kabupaten tampil langsung di Pendapa Kartini Jepara,” terangnya, Sabtu (20/6/2026).

Di tingkat kabupaten ada 25 peserta yang tampil di babal final. Terdiri dari 18 peserta dari jenjang SD dan 7 peserta dari jenjang SMP.

Melalui edukasi dan festival kenterung, Sarjono berharap kesenian tradisional ini tidak hilang begitu saja.

Generasi penerus mulai dari tingkat pelajar menjadi wadah agar kenterung tetap terjaga keberadaannya. Apalagi pertunjukan kenterung khas dari Kabupaten Jepara sudah menyandang predikat warisan budaya tak benda (WBTB) sejak 2023.

Sebagai pemerhati kesenian tradisional, Sarjono bersama pemerhati lainnya berupaya agar regenerasi seniman kenterung tidak terputus.

Dengan cara mengenalkan kenterung ke para guru dan pelajar, diharapkan nantinya keterampilan pelajar dalam berlatih bisa ditampilkan di berbagai event sekolah, desa, juga event-event tingkat kabupaten.

“Festival ini embrio kami untuk melestarikan kenterung kembali. Agar tidak punah begitu saja, soalnya sudah dinyatakan WBTB. Dan saya berharap kelak pertunjukan kenterung menghiasi kegiatan-kegiatan di lingkungan masyarakat,” harap dia.

Satu dari 25 perserta festival kenterung datang dari SDN 2 Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari.

Tiga siswa SDN 2 Blimbingrejo mewakili Kecamatan Nalumsari maju ke tingkat kabupaten. Bersaing dengan perwakilan dari kecamatan lain untuk menampilkan keterampilan terbaiknya.

Pendamping peserta dari SDN 2 Blimbingrejo, Afra Ghaida Yusfika Fauzia Putri mengatakan, pada awalnya sekolah tempat dia mengajar belum memiliki ekstrakurikuler di bidang kesenian dan budaya.

Harapan lahirnya keterampilan di bidang seni dan budaya itu muncul ketika dia ditunjuk menjadi perwakilan sekolah mengikuti workshop edukasi kenterung pada awal 2026.

Sejak itu, SDN 2 Blimbingrejo mendukung lahirnya keterampilan baru dengan membelikan dua buah terbang untuk siswa berlatih kenterung.

Tak hanya itu, pihak sekolah juga mendatangkan pelatih khusus kenterung agar tim bentukan bisa lebih optimal dalam berlatih sebelum pentas di depan masyarakat umum.

“Kesenian ini kan baru bagi kami, Alhamdulillah didukung penuh oleh sekolah. Persiapannya untuk lomba mepet hanya dua pekan, kami datangkan pelatih agar anak-anak bisa tampil maksimal,” ujar dia.

Afra hanya berharap anak-anak didiknya tampil lancar selama mengikuti festival kenterung. Perihal juara tidak menjadi target utama dengan kondisi persiapan yang sangat mepet.

“Rencana kenterung ini akan jadi ekstrakurikuler di sekolah kami. Sekaligus untuk persiapan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2027,” tutur dia.