Harga Jagung Kering Rp6.300 per Kg, Petani Blora Bersyukur Bisa Panen

www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah,26 September 2026-Sebagian petani di Kabupaten Blora saat ini sudah mulai memasuki masa panen jagung.

Meskipun musim kemarau, petani masih bisa berhasil menanam jagung hingga panen, dengan keterbatasan air yang ada.

Kendati demikian, harga jual jagung di musim kemarau saat ini juga membuat sejumlah petani bisa tersenyum.

Salah satunya dirasakan petani asal Desa Harjowinangun, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora, Indasih.

Saat ditemui, Indasih tengah memanen jagung di lahan jagung miliknya yang luasnya hampir mencapai dua hektare.

Indasih mengatakan harga saat ini Rp6.300 per kilogram untuk jagung kering.

Sementara jagung yang masih dalam kondisi basah dihargai sekitar Rp5.500 per kilogram.

“Kalau yang kering sekarang Rp6.300 per kilogram. Kalau yang masih basah sekitar Rp5.500,” kata Indasih, Sabtu (26/9/2026).

Menanam jagung di musim kemarau, membuat petani harus tetap memenuhi kebutuhan air untuk tanamannya.

Meskipun jagung tergolong sebagai komoditas yang tidak terlalu banyak membutuhkan air, dan cocok untuk ditanam di musim kemarau, petani harus tetap memenuhi kebutuhan air pada tanaman jagung, terutama pada masa awal pertumbuhan.

Indasih mengaku harus menyedot air dari aliran sungai yang berada tidak jauh dari lahan miliknya untuk menyiram tanaman jagung.

Namun, kebutuhan air tersebut tidak terlalu banyak. Sejak awal ditanam hingga tanaman berusia sekitar 30 hari, jagung di lahannya hanya perlu disiram sebanyak dua kali.

“Kalau musim seperti ini malah bagus untuk jagung. Tidak terlalu banyak hujan, jadi buahnya bisa lebih maksimal. Dari tanam sampai umur 30 hari itu paling hanya dua kali disiram,” jelasnya.

Dengan harga jual yang mencapai Rp6.300 per kilogram, Indasih menyebut hasil panen jagung saat ini cukup memberikan keuntungan bagi petani.

Terlebih, menanam jagung menjadi pilihan mayoritas warga Desa Harjowinangun setelah mereka selesai memanen padi.

“Setelah panen padi, rata-rata petani di sini menanam jagung,” katanya.

Meski panen kali ini memberikan hasil yang menggembirakan, Indasih mengaku tidak sepenuhnya mulus dalam proses budidaya.

Dia sempat dibuat frustrasi ketika tanaman jagungnya yang baru berusia sekitar tiga minggu diserang hama tikus.

Serangan tersebut membuat sebagian tanaman harus ditanam kembali. Akibatnya, pertumbuhan dan hasil buah jagung di sejumlah bagian lahan tidak maksimal.

“Yang menjadi kendala itu tikus. Waktu umur sekitar tiga minggu diserang tikus, akhirnya harus tanam lagi,” jelasnya.

Menurut Indasih, serangan hama tikus juga menjadi persoalan yang dirasakan sejumlah petani jagung lainnya di wilayah tersebut.

Meski menghadapi kendala tersebut, Dia tetap bersyukur karena sebagian besar tanaman jagungnya mampu dipanen dengan hasil yang cukup baik.

“Meskipun diserang tikus, Alhamdulillah ini kami masih bisa panen,” paparnya.