www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah, 21 Mei 2026-Keuletan diiringi jiwa pantang menyerah menghantarkan Mundirun, laki-laki 63 tahun asal Senenan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara menjadi peternak dan pedagang sapi sukses.
Usaha peternakan yang mulai dirintis sejak 2007 lalu di Kabupaten Jepara berkembang pesat hingga memiliki peternakan cabang di Jawa Barat.
Tak tanggung-tanggung, setiap momentum Hari Raya Iduladha, dia berhasil menjual ratusan ekor sapi dengan market penjualan di berbagai kabupaten/kota di Indonesia. Pesanan terbanyak datang dari wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga DKI Jakarta.
Pada momentum Lebaran Iduladha tahun ini, Mundirun sudah melepas 350 ekor sapi kurban ke berbagai daerah. Dengan range harga mulai dari Rp 21 juta – 95 juta.
Kata dia, sapi-sapi lokal yang paling diminati kisaran harga Rp 21 juta – 25 juta per ekor dengan bobot 350 – 400 kilogram.
Selain itu, dia juga spesialis menjual sapi jumbo dengan bobot lebih dari 650 kilogram ke pembeli luar provinsi.
Tahun ini, sapi terberatnya mencapai 1,12 ton laku di harga Rp 95 juta.
Dia juga menjual lebih dari 150 ekor sapi jumbo dengan bobot dan harga bervariasi. Di antaranya sapi jenis simental dengan bobot 700 kilogram dibawa ke Pasar Hewan Bangsri dengan harga Rp 45 juta.
“Ini sapi 700 kilogram sudah laku oleh orang Jakarta siap kirim. Rencana kirim bareng hewan kurban yang ada di kandang Senenan,” terangnya sembari menujukkan sapi jumbonya di Pasar Hewan Bangsri, Kamis (21/5/2026).
Menjadi peternak dan pedagang sapi merupakan hobi dan keinginan Mundirun sejak remaja. Lantas tidak serta merta dia menjadi sukses hanya dalam hitungan bulan atau tahun.
Dia membutuhkan waktu 20 tahun untuk bisa membangun bisnis peternakan dan perdagangan sapi hingga merambah ke pemasaran nasional.
Mundirun yang biasa dikenal dengan nama Mbah Dirun membangun bisnis peternakan dari nol.
Pria kelahiran Blora tersebut lantas hijrah ke Bumi Kartini dan menjadi warga Kabupaten Jepara.
Di Jepara, dia memulai hobi yang diidam-idamkan sejak usia 43 tahun. Membangun kandang ternak sendiri sebagai peternak mandiri.
Setelah beberapa tahun usaha ternaknya berjalan, Mundirun sadar bahwa dalam bisnis hewan ternak tidak bisa berjalan sendiri.
Dia pun membangun jaringan dan komunikasi lintas daerah bekerjasama dengan peternak-peternak luar daerah sebagai langkah awal jejaring bisnisnya terbangun.
“Saat itu saya berusaha berpikir lebih luas bahwa setiap bisnis dibangun membutuhkan jaringan. Termasuk peternakan dan perdagangan hewan ternak. Kalau mau sukses dan besar, jaringan bisnis itu harus dibangun,” tuturnya.
Lambat lahun bisnis peternakan Mundirun tumbuh dengan baik. Pemasaran hewan ternaknya mulai merambah kota-kota besar sampai ke Bandung, Bogor, Tangerang, hingga Jakarta.
Dia pun mulai mengembangkan bisnis perdagangan hewan ternak sebagai lanjutan dari bisnis peternakan. Mulai dari menjemput pesanan hewan, mencarikan hewan yang dipesan, dan menjualnya ke berbagai daerah di Indonesia lintas pulau.
Dalam setahun, dia dan rekan peternak jaringannya bisa menjual lebih dari 1.000 sapi ke berbagai daerah dengan harga mulai dari Rp 15 juta di luar pulau Jawa, hingga puluhan juta.
“Khusus momentum Hari Raya Iduladha, kebanyakan pesanan dari Jabodetabek. Kalau luar Jawa seperti Kalimantan hingga Bali dan NTT, jarang ada. Kalau hari-hari biasa permintaan hampir merata di daerah-daerah di Indonesia,” ucap dia.
*Miliki Kandang Sapi di Jepara dan Jawa Barat*
Mundirun saat ini memiliki dua kandang sapi di Jepara dan Jawa Barat.
Kandang sapi di Senen Jepara berkapasitas 50 ekor dan saat ini terisi 40 ekor keluar masuk.
Bisnis peternakannya sudah bisa mengantarkan tiga anaknya lulus di perguruan tinggi, satu di antaranya kini sudah menjadi dokter hewan.
Dia berharap, bisnis ternak dan perdagangan hewan ternak yang dirintisnya bisa menjadi jalan peluang bisnis yang diteruskan anaknya.
Supaya bisnisnya yang sudah dirintis 20 tahun terakhir menjadi ladang rizki bagi anak-anaknya.
“Yang saya bisa semampunya saya usahakan untuk keluarga dan anak-anak. Berharap bisnis ini membukakan jalan anak. Sudah tua juga, sudah waktunya istirahat,” ucap dia.
*Pernah Jajaki Peternakan Kambing, Tapi Gagal*
Mundirun mengaku pernah mengembangkan bisnis peternakannya dengan membangun peternakan kambing.
Waktu itu, bisnis peternakan sapinya sudah berjalan stabil. Dilanjutkan dengan peternakan kambing agar usahanya bisa lebih berkembang.
Tanpa disangka, usaha baru peternakan kambing yang dirintisnya gagal. Dia justru merugi dari hasil peternakan kambing.
Akhirnya peternakan kambing Mbah Dirun gulung tikar dan kembali fokus pada peternakan dan perdagangan sapi.
“Enggak tahu waktu saya buka bisnis ternak kambing itu justru rugi. Sementara peternakan sapi untung. Apa mungkin karena belum terbiasa saja,” celetuk dia.
Sebagai peternak, dia berharap menjadi bagian dari sebagian warga Indonesia yang bisa membantu menjaga ketahanan pangan di bidang penyediaan daging sapi di tingkat nasional. Membantu pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan Indonesia.
