www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah, 19 Mei 2026-Satreskrim Polres Semarang melakukan penyelidikan kasus dugaan penyelewengan dana bantuan sosial program keluarga harapan (PKH) di Dusun Karangtalun, Desa Mlilir, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.
Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Bodia Teja Lelana mengatakan, dugaan kasus tersebut telah dilaporkan masyarakat pada 17 April 2026 dan kini masih dalam tahap penyelidikan.
“Kami sudah tindaklanjuti dengan melakukan klarifikasi pengadu dan pemeriksaan saksi. Pengadu sudah membawa satu saksi,” sebut AKP Bodia, Selasa (19/5/2026).
Berdasarkan keterangan pengadu, AKP Bodia menjelaskan, sangkaan kasus ini sementara tindak pidana korupsi.
Namun pihaknya masih melakukan penyelidikan.
Apabila memenuhi unsur tersebut, Polres Semarang akan segera menaikkan status ke penyidikan.
Terkait modus yang digunakan, dia membeberkan, berdasarkan keterangan pelapor dan saksi, teradu mengumpulkan ATM penerima bantuan.
“Dijanjikan dicairkan tapi tidak sampai,” katanya.
Polres Semarang telah mengirimkan surat kepada Kemensos terkait data penerima manfaat PKH di Dusun Karangtalun, Desa Mlilir.
Saat ini, pihaknya masih menunggu data tersebut dari Kemensos.
“Saksi dan korban kemungkinan akan bertambah seiring data tersebut,” ucapnya.
Selanjutnya, AKP Bodia mengatakan, akan mengundang teradu untuk dilakukan pemeriksaan.
“Langkah selanjutnya, kami mengundang teradu dengan pasal yang disangkakan. Kami akan jadwalkan pekan depan,” tuturnya.
Warga Demo
Pada Selasa (19/5/2026), warga Dusun Karangtalun, Desa Mlilir, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Desa Mlilir.
Aksi tersebut dipicu dugaan penyelewengan dana bantuan sosial PKH yang kini sedang diselidiki Satreskrim Polres Semarang.
Dalam aksi tersebut, warga menuntut agar dana bantuan yang diduga diselewengkan segera dikembalikan kepada penerima serta meminta aparat memproses hukum pihak yang terlibat.
Warga Karangtalun, Budianto (50) mengatakan, praktik penyelewengan dana tersebut diduga sudah berlangsung sejak 2020.
Banyak penerima bantuan tidak mengetahui dana bantuan tersebut mengingat ATM milik penerima bantuan dibawa oleh Kadus Karangtalun.
“ATM diminta, katanya, masyarakat yang dapat bansos ra ono duite. Jebule, dicutiki terus karo Kaduse sejak 2020,” ungkap Budi.
Budi mengatakan, sejauh ini baru ada empat orang yang menjadi korban. Namun dimungkian korban lebih banyak mengingat jumlah warga penerima manfaat di Dusun Karangtalun mencapai sekira 118 orang.
“Kadang bantuan yang diterima hanya Rp200 ribu, kadang hanya sekali cair,” tambahnya.
Warga mendesak agar Kadus yang bersangkutan mundur dari jabatannya serta bertanggung jawab mengembalikan dana bantuan.
Sementara itu, Kadus Karangtalun, Haryadi dihadirkan dalam audiensi yang dimediasi pemerintah desa bersama aparat TNI dan Polri seusai aksi demonstrasi.
Dalam pertemuan tersebut, warga mempertanyakan berbagai hal terkait dugaan penyelewengan dana bantuan sosial PKH. Mulai dari motif dugaan pengambilan ATM penerima bantuan hingga aliran dana yang dipersoalkan.
Warga juga meminta komitmen Kadus untuk bertanggung jawab mengembalikan dana yang diduga diselewengkan serta kooperatif dalam proses hukum yang kini diproses Satreskrim Polres Semarang.
Dalam audiensi tersebut, Kadus Karangtalun, Haryadi mengaku khilaf telah melakukan penyelewengan dana bantuan sosial PKH.
Dia menyebut, perbuatannya terjadi karena adanya kesempatan.
“Saya sebenarnya tidak niat, tapi ada kesempatan. Mungkin khilaf,” ucapnya.
Dalam audiensi tersebut, Haryadi juga sempat menjelaskan terkait aliran dana bantuan yang dipersoalkan warga.
Dia mengaku ada sejumlah rekening penerima bantuan yang saldonya sudah tidak ada.
Dia juga menyebut sebagian dana digunakan sementara dengan alasan tertentu.
Dia berkomitmen mengembalikan dana yang menjadi hak penerima manfaat.
Dia mengaku, sudah mengembalikan sebagian namun belum seluruh penerima manfaat.
“Saya berusaha sekuat tenaga saya untuk mengembalikan,” ucapnya.
Saat ditanya terkait kesanggupan mempertanggubgjawaban perbuatan secara hukum, Hariyadi menjawab dengan singkat bahwa dirinya siap.
“Nggih,” ucapnya saat ditanya warga.
