www.EkonomiNusantara.com.ǁJawa Tengah, 10 Mei 2026-Penguatan ekonomi syariah di Jawa Tengah diarahkan agar semakin membumi dan dirasakan langsung manfaatnya hingga tingkat kabupaten dan kota.
Kolaborasi antarstakeholder, penguatan UMKM, pesantren, serta keterlibatan generasi muda dinilai menjadi kunci mendorong pertumbuhan ekonomi syariah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) V MES Jawa Tengah di Semarang, Minggu (10/5/2026), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Tengah resmi memiliki nahkoda baru.
Rezza Arief Budy Artha terpilih sebagai Ketua Umum MES Jateng periode 2026–2031.
Tokoh asal Cilacap itu dipercaya memimpin MES Jateng setelah dinilai memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan ekonomi syariah, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Rezza bukan nama baru di lingkungan MES.
Ia tercatat aktif sejak awal berdirinya MES Jawa Tengah dan pernah memimpin MES DKI Jakarta periode 2017–2020.
Selain itu, ia juga dipercaya menjadi Ketua Bidang di Pengurus Pusat MES periode 2021–2024.
Di luar aktivitas organisasi, Rezza dikenal sebagai pengusaha di bidang keuangan syariah yang konsisten mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis syariah di Indonesia.
Dalam wawancara usai terpilih, Rezza menegaskan komitmennya membawa MES Jawa Tengah menjadi organisasi yang lebih aktif, inklusif, dan memberi dampak nyata hingga tingkat daerah.
“MES bukan hanya organisasi, tetapi rumah besar kolaborasi umat. Ke depan kami ingin memastikan ekonomi syariah hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sampai tingkat kabupaten dan kota,” ujar Rezza.
Menurutnya, Jawa Tengah memiliki potensi besar menjadi pusat pengembangan ekonomi syariah nasional karena ditopang kekuatan UMKM, pesantren, industri halal, hingga generasi muda kreatif.
“Jawa Tengah memiliki kekuatan besar. Ada UMKM yang tangguh, pesantren yang produktif, serta anak-anak muda yang inovatif. Tugas kita adalah menyatukan potensi itu dalam ekosistem ekonomi syariah yang modern dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menilai penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah, Bank Indonesia, OJK, akademisi, dunia usaha, dan komunitas menjadi langkah penting dalam memperluas manfaat ekonomi syariah.
“Kami ingin MES Jateng menjadi mitra strategis pemerintah dan seluruh stakeholder. Kolaborasi adalah kunci agar program pemberdayaan ekonomi syariah benar-benar bisa dirasakan masyarakat luas,” tambahnya.
Rezza juga menegaskan pihaknya akan memberi perhatian besar pada penguatan ekonomi kerakyatan dan keterlibatan generasi muda dalam pengembangan ekonomi syariah.
“Ekonomi syariah harus mampu membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan menghadirkan keadilan ekonomi. Anak muda harus dilibatkan karena mereka adalah motor masa depan ekonomi syariah Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, Muswil V MES Jateng juga menjadi momentum refleksi perjalanan organisasi.
MES Jawa Tengah sebelumnya telah melahirkan sejumlah tokoh ekonomi syariah nasional, di antaranya H Hasan Toha Pura dan Dr Nyata Nugraha yang masing-masing memimpin selama dua periode.
Kehadiran pengurus daerah yang mencapai 100 persen dalam Muswil disebut menjadi gambaran soliditas organisasi menyongsong kepemimpinan baru.
Selain menerima laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2022–2025, peserta Muswil juga memberikan apresiasi terhadap kepengurusan sebelumnya yang dinilai mampu menjaga eksistensi serta memperluas peran MES di berbagai sektor masyarakat.
Melalui musyawarah mufakat, Rezza Artha akhirnya dipercaya memimpin MES Jawa Tengah untuk lima tahun ke depan.
